JURNAL KIMIA 1
Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan
Penerapan MIPA, Fakultas MIPA,
Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Juni 2012
K-87
PEMANFAATAN DAUN NANAS (Ananas comosus) SEBAGAI ADSORBEN
LOGAM Ag DAN Cu PADA LIMBAH INDUSTRI PERAK DI KOTAGEDE, YOGYAKARTA
Eko Budiyanto, Ardi Yuli Wardani, Winda Nirmala Jurusan
Pendidikan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Yogyakarta
Abstrak
Telah dilakukan
penelitian tentang adsorbsi logam Ag dan Cu dari limbah cair industri perak di
Kotagede, Yogyakarta menggunakan adsorben dari daun nanas (Ananas comosus).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik, daya adsorbsi serta
pengaruh jumlah adsorben dari daun nanas (Ananas comosus) terhadap adsorbsi
logam Ag dan Cu. Subjek penelitian
adalah karbon dari daun nanas yang
teraktivasi oleh HCl 15% dengan waktu perendaman 24 jam. Objek penelitian adalah kemampuan adsorben dari daun nanas
(Ananas comosus) untuk mengadsorbsi logam Cu dan Ag dari limbah cair industri
perak di Kotagede. Variabel bebas yang dipakai adalah jumlah karbon aktif,
yaitu 0,5; 1,0; 1,5; 2,0 dan 2,5 gram
per 100 mL limbah cair. Waktu dan
pH adsorbsi dilakukan pada kondisi optimum, yaitu waktu kontak 24 jam dan pada
pH 2. Karakterisasi karbon aktif menggunakan parameter kadar air, abu dan daya
serap terhadap I2. Daya adsorbsi ditentukan dengan membandingkan konsentrasi Cu
dan Ag sebelum dan setelah adsorbsi..
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa karbon aktif dari daun Nanas
(Ananas comosus) memiliki kadar air 0,6% , kadar abu 3,2% dan daya serap
terhadap I2 73,67%. Untuk logam Cu adsorbsi optimum diperoleh pada massa
adsorben 2 gram/100 mL dengan daya adsorbsi 69,07% dan untuk logam Ag adsorbsi
optimum diperoleh pada massa adsorben 1,5 gram/100 mL dengan daya adsorbsi
74,56%. Kenaikan massa adsorben
meningkatkan daya adsorbsi.
Kata kunci : adsorben, daun nanas, limbah cair
PENDAHULUAN
Perkembangan industri di segala bidang dewasa
ini semakin pesat, tidak terkecuali perkembangan industri penyepuhan
(elektroplating) perak di sentra industri perak Kotagede yang merupakan salah
satu potensi asli daerah (PAD) dari kota Yogyakarta. Perkembangan industri
penyepuhan perak menimbulkan masalah baru yaitu limbah dari industri tersebut
yang mencemari lingkungan. Limbah cair merupakan hasil buangan dari industri
penyepuhan perak di Kotagede. Limbah cair ini mengandung logam-logam berat,
seperti Tembaga (Cu) dan Perak (Ag). Limbah Ag berasal dari hasil pembuangan
larutan elektrolit AgNO3 yang dipakai untuk penyepuhan perak. Adapun limbah Cu
muncul dari pencelupan dengan menggunakan HCl yang bersifat asam dan berfungsi
untuk melarutkan kotoran-kotoran yang menempel pada perak setelah proses
penempaan agar didapatkan perak dengan warna yang cemerlang. CuCl 2 yang
terlarut pada proses ini akhirnya lolos ke perairan dan menimbulkan
pencemaran. Menurut Giyatmi (2008),
kadar Cu dan Ag pada limbah cair industri penyepuhan logam berturut-turut
adalah 11,547 ppm dan 0,052 ppm. Angka ini telah melampaui ambang batas
maksimal. Jika hal ini dibiarkan maka limbah cair tersebut akan mencemari
sungai maupun meresap ke tanah sehingga mempengaruhi kualitas air sumur warga.
Cu da Ag adalah logam berat yang tidak dapat terurai secara alami, maka akan
sangat berbahaya bagi manusia. Oleh
karena itu, diperlukan suatu cara untuk mengolah limbah cair dari industri
penyepuhan perak tersebut sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan. Cara yang
dapat digunakan adalah menggunakan adsorben logam berat. Adsorben yang dapat
dipakai daun nanas (Ananas comosus). Pemanfaatan tanaman ini hanya sebatas pada
buahnya saja sedangkan daun nanas (Ananas comosus) relatif belum banyak diolah. Untuk 2-3 kali
panen, tanaman ini harus diganti dengan tanaman nanas (Ananas comosus) baru, sehingga terdapat relatif banyak limbah
daun nanas (Ananas comosus) dari
pertanian nanas.
Eko Budiyanto, Ardi Yuli Wardani, Winda Nirmala Pemanfaatan Daun Nanas …
K-88
Daun nanas (Ananas comosus)
banyak mengandung bahan kima salah satunya sellulosa. Menurut Handayani
(2010), kandungan sellulosa dalam daun nanas (Ananas comosus) sebesar 69,6-71%. Dengan kandungan sellulosa
yang tinggi serat daun nanas (Ananas comosus)
dapat dijadikan adsorber limbah logam berat karena struktur rongga dalam
sellulosa dapat mengadsorbsi logam berat Cu dan Ag Berdasarkan latar belakang di atas, maka
dapat dirumuskan masalah yang diteliti sebagai berikut : (1) bagaimana karakteristik
adsorben yang dihasilkan dari daun nanas (Ananas comosus); (2) berapa daya adsorbsi adsorben dari daun
nanas (Ananas comosus) terhadap logam Cu
dan Ag; (3) bagaimana pengaruh jumlah/luas permukaan adsorben dari daun nanas (Ananas
comosus) terhadap logam Cu dan Ag yang
teradsorbsi. Tujuan yang ingin dicapai
dalam penelitian ini adalah: (1) mengetahui karakteristik adsorben yang
dihasilkan dari daun nanas (Ananas comosus); (2) mengetahui daya adsorbsi
adsorben dari daun nanas (Ananas comosus)
terhadap logam Cu dan Ag; (3) mengetahui pengaruh jumlah/luas
permukaan adsorben dari daun nanas
(Ananas comosus) terhadap logam Cu dan
Ag yang teradsorbsi. Manfaat yang
diharapkan dari hasil poenelitian ini adalah memberikan alternatif pengolahan
limbah perkebunan berupa adsorben dari serat daun nanas (Ananas comosus) sebagai penanggulangan dampak lingkungan
akibat limbah industri perak di Kotagede, Yogyakarta
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah
penelitian eksperimen pengembangan yaitu mengembangkan suatu bioadsorben dari
daun nanas (Ananas comosus) untuk limbah cair industri perak di Kotagede.
Subjek dari peneliytian ini adalah daun nanas (Ananas comosus) dan objek dari
penelitian ini adalah kemampuan adsorben dari daun nanas (Ananas comosus) untuk
mengadsorbsi logam Cu dan Ag dari limbah cair industri perak di Kotagede.
Variabel bebas yang dipakai dalam penelitian ini adalah berbagai variasi
jumlah/luas permukaan bioadsorben daun
nanas (Ananas comosus), dengan variabel terikat
konsentrasi logam Cu dan Ag yang teradsorbsi oleh bioadsorben dan
variabel kontrol konsentrasi logam Cu dan Ag dalam limbah cair sebelum
diadsorbsi, jumlah sampel, waktu adsorbsi, pH dan suhu. Penelitian dilakukan
melalui tiga tahapan, yaitu pembuatan arang aktif (adsorben) dari daun nanas
(Ananas comosus), karakterisasi arang aktif dari daun nanas (Ananas comosus)
dan penentuan daya adsorbsi terhadap ion logam Ag dan Cu dalam limbah cair
industri perak di Kotagede. Pembuatan arang aktif dilakukan dengan menyangrai
daun nanas (Ananas comosus) kering hingga terbentuk arang. Selanjutnya arang
ini dihaluskan hingga keh alusan 50 mesh dan diaktivasi dengan larutan HCl 15%
selama 24 jam. Selanjutnya arang aktif disaring dan dicuci dengan akuades
hingga netral dan dioven pada suhu 110 oC selama 2 jam. Tahap kedua adalah
karakterisasi arang aktif yang meliputi kadar air, kadar abu dan daya serap
terhadap I2. Untuk uji kadar air, sebanyak 1 gram arang aktif dioven pada suhu
100 oC selama 1 jam dan ditimbang dan dilakukan pengulangan sampai berat
konstan. Pengujian kadar abu dilakukan dengan mengabukan 1 gram arang aktif di
dalam muffle furnace selama 1 jam pada
suhu 900 oC. Pengujian daya serap terhadap I2 dilakukan dengan cara menimbang 0,5 gram arang aktif dan tambahkan 50 mL
larutan iodium 0,1 N dan diaduk selama 15 menit (larutan 1). Menyaring dan memipet 2
mL filtrat, tambahkan 9 mL air suling dan titrasi dengan larutan Na 2 S
2 O 3 0,1 N. Tahap ketiga, yaitu penentuan daya adsorbsi terhadap ion logam Ag
dan Cu dalam limbah cair industri perak di Kotagede dilakukan dengan cara
mencampurkan 100 mL limbah cair dengan variasi massa adsorben, yaitu 0,5; 1,0;
1,5; 2,0 dan 2,5 gram lalu didiamkan selama 24 jam pada pH 2. Kadar Ag dan Cu
diukur dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari
penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil karakterisasi arang
aktif
sebagai berikut :
Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan
Penerapan MIPA,
Fakultas MIPA,
Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Juni 2012
K-89
Tabel 1. Hasil
karakterisasi arang aktif
|
No
|
Parameter
|
Satuan
|
SNI No. 06-37301995
|
Arang aktif dari daun nanas
|
|
1
|
Kadar air
|
%
|
Max 4,4
|
0,6
|
|
2
|
Kadar abu
|
%
|
Max 10
|
3,2
|
|
3
|
Daya serap terhadap I2
|
mg/g
|
Min 750
|
736,7
|
Dari data tersebut diperoleh bahwa kadar air dan kada abu
bsudahb sesuai dengan yang dipersyaratkan oleh SNI No. 06-3730-1995, sedanglan
daya serap terhadap I2 masih di bawah standar SNI. Hal ini akan berakibat pada
efektivitas penyerapan terhadap ion logam. Selanjutnya dilakukan perlakuan
terhadap sampel. Dilakukan variasi penambahan arang aktif sebanyak 0; 0,5; 1,0;
1,5; 2,0 dan 2,5 gram per 100 mL limbah cair dengan waktu kontak 24 jam dan pH
2. Selanjutnya campuran disaring dan filtrat diukur dengan AAS kadar Cu dan Ag.
Setelah pengukuran diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 2. Kadar Cu setelah adsorbsi
|
No
|
Kode sampel
|
Jumlah adsorben (gram/100 mL)
|
Hasil pengukuran (ppm
|
) Rata-rata (ppm)
|
% Adsorbsi
|
|
I
|
II
|
III
|
|
1
|
A
|
0
|
22,729
|
22,729
|
22,729
|
22,729
|
-
|
|
2
|
B
|
0,5
|
15,298
|
15,298
|
15,298
|
15,298
|
32,694
|
|
3
|
C
|
1,0
|
13,750
|
12,822
|
13,131
|
13,234
|
41,773
|
|
4
|
D
|
1,5
|
10,345
|
10,654
|
10,345
|
10,448
|
54,032
|
|
5
|
E
|
2,0
|
7,185
|
7,030
|
6,875
|
7,030
|
69,070
|
|
6
|
F
|
2,5
|
8,578
|
8,733
|
8,733
|
8,681
|
61,805
|
Eko Budiyanto, Ardi Yuli Wardani, Winda Nirmala Pemanfaatan Daun Nanas …
K-90
Tabel 3. Kadar Ag setelah adsorbsi
|
No
|
Kode sampel
|
Jumlah adsorben (gram/100 mL)
|
Hasil pengukuran (ppm
|
) Rata-rata (ppm)
|
% Adsorbsi
|
|
I
|
II
|
III
|
|
1
|
A
|
0
|
0,177
|
0,169
|
0,169
|
0,172
|
-
|
|
2
|
B
|
0,5
|
1,083
|
0,1
|
0,075
|
0,086
|
49,903
|
|
3
|
C
|
1,0
|
0,041
|
0,058
|
0,049
|
0,049
|
71,262
|
|
4
|
D
|
1,5
|
0,049
|
0,041
|
0,041
|
0,044
|
74,563
|
|
5
|
E
|
2,0
|
0,066
|
0,066
|
0,066
|
0,066
|
61,553
|
|
6
|
F
|
2,5
|
0,049
|
0,049
|
0,049
|
0,049
|
71,456
|
Dari hasil tersebut diperoleh bahwa untuk Ag daya adsorbsi
tertinggi diperoleh pada jumlah adsorben 1,5 gram/100 mL limbah cair dengan
nilai daya adsorbsi 74,563%. Menurut PP Nomor 20/1990, ambang batas kadar Ag
untuk air golongan B adalah 0,05 ppm dan dari hasil pengolahan dengan arang
akti tersebut, air sudah layak. Untuk Cu daya adsorbsi tetinggi sebesar 69,070%
diperoleh dengan jumlah adsorben 2,0 gram/100 mL limbah cair. Menurut PP Nomor
20/1990, ambang batas Cu untuk air golongan B adalah 1 ppm sehingga pengolahan
dengan arang aktif dari daun nanas belum efektif.
KESIMPULAN
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa karbon
aktif dari daun Nanas (Ananas comosus) memiliki kadar air 0,6% , kadar abu 3,2%
dan daya serap terhadap I2 73,67%. Untuk logam Cu adsorbsi optimum diperoleh
pada massa adsorben 2 gram/100 mL dengan daya adsorbsi 69,07% dan untuk logam
Ag adsorbsi optimum diperoleh pada massa adsorben 1,5 gram/100 mL dengan daya
adsorbsi 74,56%. Kenaikan massa adsorben
memiliki kecenderungan meningkatkan daya adsorbsi.
DAFTAR PUSTAKA
Andaka, Ganjar. 2008. Penurunan Kadar Tembaga pada Limbah Cair
Industri Kerajinan Perak dengan Presipitasi menggunakan Natrium Hidroksida.
Jurnal Teknologi vol. 1 nomor 2
127134
Artati, E.K., dkk.
2009, Pengaruh Konsentrasi Larutan Pemasak pada Proses Delignifikasi
Eceng Gondok dengan Proses Organosolv. Ekuilibrium, Vol. 8 No. 1, hal
25-28
Badan Standardisasi Nasional. 1995. SNI No. 06-3730-1995. Jakarta: BSN
Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan
Penerapan MIPA,
Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Juni
2012
K-91
Giyatmi, dkk. 2008. Penurunan Kadar Cu,Cr dan Ag Dalam
Limbah Cair Industri Perak di Kotagede detelah Diadsorpsi dengan Tanah Liat
dari Daerah Godean. Jurnal Seminar Nasional IV SDM Teknologi Nuklir ISSN
1978-0176
Handayani, Aries Wiwit. 2010. Penggunaan Selulosa Daun Nanas
sebagai Adsorben Logam Berat Cd(II). Surakarta: Skripsi UNS
Istiyono, Edi, dkk. 2008. Pengelolaan Limbah Industri
Penyepuhan Logam Perak (Elektroplating) di Lingkungan Pengrajin Perak Kecamatan
Kotagede. Yogyakarta: E-prints UNY
Salamah, Siti. 2008. Pembuatan karbon Aktif dari Kulit Buah
Mahonidengan Perendaman Larutan KOH. Prosiding Seminar nasional Teknoin Bidang
Teknik Kimia dan Tekstil
Sani. 2011. Pembuatan Karbon Aktif dari Tanah Gambut. Jurnal
teknik Kimia vol. 5 no.2
Tarmansyah, Umar. 2007. Pemanfaatan Serat Rami untuk
Pembuatan Selulosa. Jakarta: Puslitbang Dephan
JURNAL KIMIA 2
MAKARA, KESEHATAN, VOL. 7, NO. 2, DESEMBER 2003
PENENTUAN KADAR NIKOTIN DALAM ASAP ROKOK
Dewi Susanna, Budi Hartono, Hendra Fauzan
Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia
E-mail: dsusanna@makara.cso.ui.ac.id
Abstrak
Penelitian ini merupakan studi deskriptif untuk mengetahui kadar nikotin dalam asap beberapa merk rokok yang banyak dijual di pasaran. Jenis rokok yang digunakan adalah tiga merk rokok filter dan tiga merk rokok kretek (non filter), Kadar nikotin yang diukur adalah kadar nikotin dalam asap arus utama dan asap rokok arus samping. Pengukuran kadar nikotin dilakukan dengan menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi per batang rokok. Kandungan nikotin dalam rokok kretek lebih besar dibandingkan rokok filter. Pada rokok filter kandungan nikotin terbesar pada Filter-C, terendah pada Filter-A. Sedangkan pada rokok kretek kandungan tertinggi pada Kretek-X dan terendah pada Kretek-Z. Nikotin yang terdapat dalam asap rokok arus samping 4 – 6 kali lebih dari asap rokok arus utama. Hendaknya kadar
nikotin dicantumkan pada kemasan setiap merk rokok dan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efek terhadap kesehatan masyarakat.
Abstract
Nicotine Content Determination on Cigarettes Smoke. The purpose of this descriptive study is to assess the nicotine level of several types of cigarettes brand sold in the market. The study includes three brands of filtered cigarette and three brands of non-filtered cigarette. The nicotine content was measured from both mainstream smoke and sidestream smoke by using the HPLC (High Performance Liquid Chromatography). It was found that the nicotine content of non-filtered cigarette was higher than the filtered cigarette. The highest nicotine content in the filtered cigarettes was the Filter-C, meanwhile the lowest was Filter-A. The highest nicotine content of the non filtered cigarettes was the Kretek-X with the lowest nicotine content the Kretek-Z. The nicotine content of sidestream smoke was 4 – 6 times than mainstream smoke. Nicotine content level in the cigarette package should be mentioned and further studies should determine the effect of cigarettes to the public healths.
Keywords: cigarette, nicotine, filtered, non- filtered, mainstream smoke, sidestream smoke
1. Pendahuluan
Merokok telah diketahui dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan ini dapat disebabkan oleh nikotin yang berasal dari asap arus utama dan asap arus samping dari rokok yang dihisap oleh perokok. Dengan demikian penderita tidak hanya perokok sendiri (perokok aktif) tetapi juga orang yang berada di lingkungan asap rokok (Environmental Tobacco Smoke) atau disebut dengan perokok pasif1. Gangguan kesehatan yang ditimbulkan dapat berupa bronkitis kronis, emfisema, kanker paru-paru, larink, mulut, faring, esofagus, kandung kemih, penyempitan pembuluh nadi dan lain-lain. Namun demikian masih banyak orang baik laki-laki maupun perempuan yang belum atau tidak dapat meninggalkan kebiasaan merokok ini 2. Berbagai usaha telah dilakukan oleh pihak-pihak yang peduli terhadap kesehatan lingkungan dari asap rokok, seperti larangan merokok di tempat-tempat umum, instalasi khusus, dan lain-lain. Bahkan peringatan pemerintah pada kemasan rokok yang menyatakan bahwa merokok dapat merugikan kesehatan tidak mendapatkan tanggapan baik dari masyarakat
2.
39
MAKARA, KESEHATAN, VOL. 7, NO. 2, DESEMBER 2003
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lingkungan asap rokok adalah penyebab berbagai penyakit, dan juga dapat mengenai orang sehat yang bukan perokok. Paparan asap rokok yang dialami terus-menerus pada orang dewasa yang sehat dapat menambah resiko terkena penyakit paru-paru dan penyakit jantung sebesar 20 - 30 persen. Lingkungan asap rokok dapat memperburuk kondisi seseorang yang mengidap penyakit asma, menyebabkan bronkitis, dan pneumonia. Asap rokok juga menyebabkan iritasi mata dan saluran hidung bagi orang yang berada di sekitarnya. Pengaruh lingkungan asap tembakau dan kebiasaan ibu hamil merokok dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada anaknya bahkan sebelum anak dilahirkan. Bayi yang lahir dari wanita yang merokok selama hamil dan bayi yang hidup di lingkungan asap rokok mempunyai resiko kematian yang sama 2 . Risiko yang dapat ditimbulkan oleh karena merokok sebenarnya dapat dikurangi bila diketahui kadar nikotin dalam asap rokok 2. Bila kadar ini dicantumkan maka calon perokok dapat memilih rokok dengan kandungan nikotin yang sekecil mungkin atau kandungan yang paling sedikit diantara jenis-jenis rokok. Pada saat ini banyak produsen rokok belum mencantumkan kadar nikotin dalam kemasannya maka perlu dilakukan pengukuran kadar nikotin yang dihasilkan oleh asap rokok dengan tujuan untuk mengetahui berapa kandungan nikotin yang dihasilkan oleh asap rokok dari berbagai macam merk rokok yang banyak beredar di pasaran. Asap rokok yang akan diukur adalah asap rokok yang dihisap oleh perokok (asap rokok arus utama) dan yang dilepaskan ke lingkungan sekelilingnya (asap arus samping) yang memungkinkan dihirup oleh orang lain yang berada di lingkungan tersebut 3.Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan atau informasi bagi para perokok untuk
dapat mengetahui bahaya yang ditimbulkan akibat kebiasaan merokok dan meninggalkan kebiasaan merokok secara perlahan atau dapat menentukan alternatif produk rokok yang ebih rendah kadar nikotinnya.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan studi deskriptif, untuk mengetahui kadar nikotin dalam asap berbagai merk rokok yang banyak dijual di pasaran. Jenis rokok yang digunakan adalah 3 jenis merk rokok filter dan 3 jenis rokok kretek (non-filter), masing-masing diberi notasi Filter-A, Filter-B dan Filter-C, Kretek-X, Kretek-Y dan Kretek-Z, sehingga ada 6 sampel (merk rokok). Kadar nikotin yang diukur adalah kadar nikotin dalam asap arus utama (asap yang dihisap langsung oleh perokok) dan asap rokok arus samping (asap rokok yang dilepaskan ke lingkungan). Masing-masing sampel diperiksa tiga kali ulangan dengan menggunakan satu batang rokok untuk setiap pengukuran 3. Pengukuran kadar nikotin dilakukan dengan menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi per batang rokok. Langkah pertama yang dilakukan adalah mempersiapkan bahan-bahan dan alat yang diperlukan, pembuatan larutan standar nikotin, penentuan volume larutan pengabsorbsi, uji kualitatif nikotin, absorsi nikotin dari asap rokok dan analisis dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Banyaknya nikotin dalam asap rokok dihitung berdasarkan luas puncak kromatogram standar nikotin yang diketahui konsentrasinya 4. Data yang dikumpulkan berupa kandungan nikotin pada asap utama dan asap samping dengan masing-masing tiga kali ulangan. Data tersebut dianalisis secara deskriptif dengan menampilkan rata-rata kandungan nikotin dan menghitung perbandingan antara kandungan nikotin dalam asap arus utama dan asap arus samping.
3. Hasil dan Pembahasan
Hasil pengukuran kandungan nikotin dalam asap rokok ditampilkan dalam Tabel 1.
Dari tabel tersebut terlihat bahwa kandungan nikotin yang terdapat dalam rokok kretek lebih besar dari rokok filter baik pada asap arus utama atau pun arus samping. Pada rokok filter kandungan nikotin terbesar terdapat pada Filter-C dan yang terkecil rokok Filter-A.
Tabel 1. Kandungan Nikotin dalam Asap Arus Utama dan Arus Samping per Batang Rokok
jenis rokok
|
Nikotin (mg) per batang rokok
|
AS/AU
|
Asap arus
utama (AU)
|
Asap arus
samping (AS)
|
Filter-A
|
0,738
|
3,329
|
4,510
|
0,962
|
3,935
|
4,090
|
1,011
|
4,010
|
3,966
|
Rata-rata
|
0,904
|
3,758
|
4,189
|
Filter-B
|
0,930
|
4,562
|
4,905
|
0,975
|
4,686
|
4,806
|
1,084
|
5,015
|
4,626
|
Rata-rata
|
0,996
|
4,754
|
4,779
|
Kretek-C
|
0,975
|
4,955
|
5,082
|
1,135
|
5,529
|
4,871
|
1,311
|
5,568
|
4,247
|
Rata-rata
|
1,140
|
5,350
|
4,734
|
Kretek-X
|
1,095
|
7,211
|
6,584
|
1,254
|
7,523
|
5,999
|
1,570
|
7,637
|
4,864
|
Rata-rata
|
1,306
|
7,457
|
5,816
|
Kretek-Y
|
1,384
|
5,905
|
4,267
|
1,353
|
5,931
|
4,384
|
|
1,104
|
6,516
|
5,902
|
Rata-rata
|
1,280
|
6,117
|
4,851
|
Kretek-Y
|
1,034
|
4,329
|
4,187
|
1,129
|
4,466
|
3,956
|
1,332
|
5,651
|
4,242
|
Rata-rata
|
1,165
|
4,815
|
4,128
|
Sedangkan pada jenis kretek, nikotin paling besar didapatkan pada Kretek-X, yang terkecil Kretek-Z. Hal ini disebabkan karena pada rokok kretek tidak dilengkapi dengan filter yang berfungsi mengurangi asap yang keluar dari rokok seperti yang terdapat pada jenis filter.
Asap rokok arus samping mengandung nikotin lebih banyak dari pada dalam arus utama. Dengan kata lain bahwa kadar nikotin yang dilepaskan ke lingkungan lebih banyak dari pada nikotin yang dihisap oleh perokok. Perbandingan jumlah nikotin dalam asap arus samping lebih banyak 4 – 6 kali dari pada yang terdapat dalam asap arus utama.
Perbedaan ini selain dikarenakan perbedaan dalam pembentukannya, juga disebabkan karena asap rokok arus samping terus menerus dihasilkan selama rokok menyala walaupun tidak sedang dihisap. Dengan demikian merokok tidak saja membahayakan bagi si perokok saja (perokok aktif), tetapi juga bagi orang di
sekitarnya (perokok pasif). Perbedaan nikotin dalam berbagai merk rokok dipengaruhi oleh berbagai faktor
antara lain jenis dan campuran tembakau yang digunakan, jumlah tembakau dalam tiap batang rokok, senyawa tambahan yang digunakan untuk meningkatkan aroma dan rasa, serta ada-tidaknya filter dalam tiap batang rokok.
Bila diasumsikan bahwa rata-rata orang merokok per hari 10 batang, dan diasumsikan semua nikotin yang terdapat dalam asap rokok terserap seutuhnya ke dalam tubuh, maka jumlah nikotin yang masuk ke dalam tubuh per hari dapat dihitung 2. Meskipun dosis yang dihisap per harinya masih di bawah dosis toksik (0,5–1,0 mg/kg BB atau sekitar 30 – 60 mg), bila ini berlangsung dalam waktu yang lama maka akan dapat mengakibatkan gangguan kesehatan. Pada dasarnya toksisitas suatu zat ditentukan oleh besarnya paparan (dosis), dan lamanya pemaparan.
4. Kesimpulan
Dari pengukuran kadar nikotin yang dilakukan terhadap dua jenis rokok masing-masing tiga merk dengan ulangan sebanyak tiga kali, diperoleh kesimpulan yaitu: bahwa kandungan nikotin dalam rokok kretek lebih besar dari rokok filter. Pada rokok filter kandungan nikotin terbesar pada Filter-C, terendah pada Filter-A, sedangkan pada rokok kretek kandungan tertinggi pada Kretek-X dan terendah pada Kretek-Z. Nikotin yang terdapat dalam asap rokok arus samping 4–6 kali lebih besar dari asap rokok arus utama.
41
MAKARA, KESEHATAN, VOL. 7, NO. 2, DESEMBER 2003
Hendaknya kadar nikotin dicantumkan pada setiap merk rokok. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan khususnya tentang efeknya terhadap kesehatan masyarakat khususnya perokok dan bukan perokok yang selalu berada pada lingkungan asap rokok, dan perlu dikembangkan penelitian lebih lanjut terhadap merk-merk rokok lainnya.
Daftar Acuan
1. Dube MF, Green CR. Methods of Collection of Smoke Analytical Purposes. Recent Advances in Tobacco Science1992; 8: 42-102.
2. Amstrong BK Merokok dan Kesehatan. Jakarta, 1984.
3. Alaunir N. Penentuan Kadar Nikotin dalam Berbagai Merk Rokok yang Beredar di Sumatera Barat. Padang: IKIPPadang, 1992. Laporan Penelitian.
4. Snyder LR, Kirkland JJ. Introduction to Modern Liquid Chromatography. 2nd edition. New York: John Willey andSons, 1980.