UNIVERSITAS

UNIVERSITAS

Tuesday, April 28, 2015

ARTIKEL KIMIA



ALKOHOL

APA ITU ALKOHOL??

Banyak orang awam mengartikan bahwa alkohol itu bersifat memabukkan, yang terkadang bermunculan atau seakan alkohol itu mengandung konotasi zat yang merusak, tetapi sebenarnya hal tersebut tergantung pada pengguanaan alkohol itu sendiri. sifat memabukkan dari alkohol hanya merupakan sebagian kecil dari sifat alkohol. Alkohol memiliki berbagai manfaat yang begitu banyak sekali.



DEFINISI ALKOHOL

Alkohol adalah senyawa turunan alkana yang memiliki gugus fungsional ( atom atau gugus atom yang menjadi ciri khas suatu deret homolog) –OH yang terikat pada rantai karbon alifatik. Dalam molekul alkohol, gugus fungsi –OH berikatan secara kovalen dengan atom karbon. Alkohol yang memiliki satu gugus –OH disebut dengan monoalkohol dan yang memiliki lebih dari satu gugus –OH disebut dengan polialkohol. Alkanol merupakan monoalkohol turunan alkana.

JENIS-JENIS ALKOHOL

Pada pembahasan alkana , berdasarkan posisinya dalam rumus struktur alkana, dikenal empat jenis atom C, yaitu atom C primer, atom C sekunder, atom C tersier, dan atom C kuartener. Berdasarkan letak gugus fungsinya, alkohol dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:

1) Alkohol primer, yaitu alkohol yang gugus fungsinya (–OH) terikat pada atom C primer. Alkohol primer teroksidasi membentuk aldehid dan dapat teroksidasi lebih lanjut membentuk asam karboksilat.

2) Alkohol sekunder, yaitu alkohol yang gugus fungsinya (–OH) terikat pada atom C sekunder. Alkohol sekunder teroksidasi membentuk keton.




3) Alkohol tersier, yaitu alkohol yang gugus fungsinya (–OH) terikat pada atom C tersier. Alkhol tersier tidak teroksidasi.








TATA NAMA ALKOHOL

Ada dua cara dalam pemberian nama pada alkohol yaitu :

1. Penamaan secara trival, yag dimulai dengan menyebut nama gugus alkil yang terikat pada gugus –OH kemudian diikuti kata alkohol .

 

2. Penamaan secara IUPAC, yaitu dengan mengganti akhiran α pada alkana dengan akhiran o(alkanα menjadi alkanol )



KEISOMERAN ALOHOL

Sedikit ulasan mengenai keisomeran, Isomer adalah senyawa-senyawa yang mempunyai rumus molekul yang sama, namun memiliki susunan atom yang berbeda (dapat diibaratkan sebagai sebuah anagram . Keisomeran dapat terjadi karena perbedaan struktur atau karena perbedaan konfigurasi (geometrik). Isomer struktural adalah isomer yang berbeda dari susunan atau urutan atom-atom yang saling berkaitan satu sama lain dalam satu molekul, menggambarkan apa mengikat apa. Sedangkan isomer konfigurasi (isomer geometrik) memiliki struktur yang sama, namun beberapa atom atau gugus fungsional memiliki posisi geometri yang berbeda, atau dalam arti menggambarkan susunan ruang atom-atom dalam satu molekul.

Alkohol mempunyai tiga keisomeran yaitu :

1. Keisomeran posisi , yaitukeisomeran yang terjadi karena perbedaan letak gugus –OH dalam moleul alkohol. Keisomeran posisi dalam alkohol mulai terdapat pada propanol yang mempunyai dua isomer , yaitu 1 –propanol dan 2 –propanol.




Cara menentukan jumlah isomer possi alkohol adalah :

a. Membuat kemungkina kerangka atom.

b. Menentukan kemungkinan letak gugus –OH pada posisi yang berbeda pada setiap bentuk kerangka atom C.

2. Keisomeran optik, yaitu kemampuan suatu senyawa untuk dapat memutar bidang cahaya terpolarisasi. Keisomeran optik terjadi karena adanya atom C asimetrik, yaitu atom C yang terikat pada 4 gugus yang berbeda. Banyaknya isometer optik dapat dicari dengan rumus 2n, dengan n = jumlah atom C asimetrik.

3. Keisomeran fungsi, yaitu keisomeran yang terjadi karena perbedaan gugsus fungsi diantara dua senyawa yang mempunyai rumus molekul yang sama.

SIFAT – SIFAT SENYAWA ALKOHOL

Adanya gaya antar molekul dan adanya ikatan hidrogen antar molekul alkohol akibat gugus hidroksil yang polar , menyebabkan alkohol merupakan zat yang memiliki titik didih relatif tinggi dibandingkan senyawa hidrokarbon yang jumlah atomkarbonya sama. Alkohol memiliki sifat-sifat fisika dan kimia sebagai berikut.

1. Alkohol memiliki sifat yang mudah terbakar.

2. Alkohol dengan jumlah atom karbon sebanyak satu sampai empat berapa gas atau cair . alkkohol dengan jumlah atom lima sampai sembilan berupa cairan kental seperti minyak, sedangkan yang memiliki atom sepuluh atau lebih berupa zat padat.

3. alkohol memiliki sifat yang mudah tercampur , terlarut dalam air , kelarutan ini disebabkan oleh adanya kemiripan struktur antara alkohol (R-OH) dan air (H-OH).

4. Alkohol bersifat heterepolar , memiliki sifat polar dari gugus –OH dan non polar dari gugus –R (alkil). Sifat polarnya tergantung dari panjang rantai alkilnya. Semakin panjang rantai alkinya , maka sifat kepolaranya berkurang. Hal ini menyebabkan berkurangnya sifat kelarutanya. Alkohol dengan suku terendah seperti metanol dan etanol lebih mudah larut dalam pelarut-pelarut yang polar seperti air.

5. Titik didih alkohol lebih tinggi daripada alkana. Hal ini disebabkan oleh gugus fungsi –OH yang sangat polar, sehingga gaya tarik menarik antarmolekul alkohol menjadi sangat kuat.





pada tabel 4.2 dapat kita lihat tamapak bahwa alkohol memilii titik didih yang relatif tinggi. Kenaikan titk cair dan titikdidih alkohol sebanding dengan kenaikan masa molekul relatifnya.

KEASAMAN ALKOHOL

Alkohol merupakan asam lemah , karena perbedaan keelektonegatifan antara oksigen dan hidrogen pada gugus hidroksil, yang memampukan hidrogen lepas dengan mudah. Bila dekat karbon hidroksi terdapat gugus penarikan elektron seperti fenil atau halogen, maka tingkat keasaman meningkat. Dan sebaliknya , semain banyak ggus pendorong elektron seperti rantai alkana, keasaman akan menurun.


KEGUNAAN MACAM-MACAM ALKOHOL

Senyawa alkohol sudah banyak dikenal dan dimanfaatkan manusia, baik dalam bentuk minuman, makanan , kepentingan medis, industri , dan sebagainya yang tentunya masih banyak lagi penggunaan atu pemanfaatan alkohol dalam kehidupan sehari-hari yang terkadang tanpa kita sadari. Pada umumnya alkohol digunakan

sebagai senyawa pelarut , dan sebagai minuman berakohol. Adapun beberapa senyawa yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah :

1. Metanol merupakan jenis alkohol yang banyak digunakan sebagai pelarut geah dan resin. Dengan merubah metanol menjadi metenal atau formal dehida , etanol dapat digunakan untuk membuat jenis polimer plastik. Dalam bidang industri , metanol juga digunakan sebagai cairan anti beku , dan pelarut seperti vernis. Pada kendaraan bermotor, Metanol pun juga dapat digunakan menjadi bahan bakar mobil formula. Metanol bisa digunakan sebagai sebuah aditif petrol untuk meningkatkan pembakaran.

Metanol jika dibakar akan menghasilkan karbon dioksida dan air.


2. Etanol merupakan jenis alkohol yang telah dikenal dan digunakan sejazaman dahulu, baik sebagai pelarut obat-obatan (tingtur), kosmetika maupun sebagai bahan minuman, seperti bir , anggur dan whiskey. Etanol dapat diminum atau digunakan dalam presentase tertentu . misalnya bir mengandung +7% volume etanol , (whiskey, brendi, arak mengandung +40% volume etanol, dan anggur mengandung +12% volume etanol. Etanol tidak beracun , tetapi bersifat memabukkan dan menyebabkan kantuk karena menekan aktifitas otak kanan. Etanol juga bersifat candu. Etanol dapat dihasilkan mealui proses fermentasi pada karbohidrat dengan bantuan ragi. Ragi mengandung enzim yang memicu suatu reaksi berseri yang panjang, dan akhirnya mengubah suatu gulA sederhana (C6H12O6) menjadi etanol dan karbon dioksida. 

3. Etilen merupakan jenis alkohol yang sering dimanfaatkan oleh para distributor dan importir buah. Buah tersebut diberika etilen(diperam) sehingga cepat masak, induksi sel kelamin betina pada bunga & merangsang pemekaran bunga.

4. Aspartam adalah pemanis rendah kalori dengan 200 kali kemanisan gula (sukrosa) , sehingga untuk mencapai titik kemanisan yang sama diperlukan aspartam kurang dari satu persen sukrosa.

5. Glikol merupakan jenis alkohol yang digunakan untuk melarutkan obat-obat yag tidak larut air, selain sebagai pelarut, glikol juga dapat meningatkan penyebaran obat di dalam tubuh manusia & digunakan untuk melapisi kaca atau metal, dan juga sebagai campuran cat serta tinta.

6. Gliserol merupakan jenis alkohol yang digunakan sebagai komponen penyusun berbagai macam lipid , teramasuk trialiserida. Gliserol terasa manis saat dikecap , namun bersifat racun. Dapat juga dimanfaatkan sebgai bahan pelembab pada tembakau dan kembang gula.

7. Sorbitol merupakan jenis alkohol yang digunakan sebagai pemanis bergizi , dapat memberikan energi diet : 2.6 kilo kalori (11kilojoule) per gram dibandingkan dengan rata-rata 4 kalori (17 kilojoule) untuk karbohidrat.

8. Butanol merupaan jenis alkohol yang digunakan sebagai bahan dalam parfum dan sebagai pelarut untuk ekstrasi minyak esensial dan digunakan sebagai ekstraktan dalma pembuatan antibiotik, hormon, dan vitamin.



MANFAAT ALKOHOL BAGI KESEHATAN MANUSIA

1. Mengurangi Tekanan Darah

2. Meminimalisir Risiko Stroke

3. Membantu Memperbaiki Kualitas Tidur

4. Menjaga Kesehatan Kardiovaskular

5. Meningkatkan Kehangatan Tubuh

6. Meningkatkan Libido

7. Mengurangi batu Ginjal





Sumber artikel

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/sifat_senyawa_organik/alkohol1/kegunaan_alkohol/

http://www.academia.edu/6437051/KIMIA_ALKOHOL/

http://ardra.biz/sain-teknologi/ilmu-kimia/pengertian-sifat-dan-manfaat-kegunaan-alkohol/

https://dyahernawati.wordpress.com/kimia-sma-xii/senyawa-karbon-alkanaalkenaalkuna/

http://manfaat.co.id/manfaat-alkohol-bagi-kesehatan-tubuh/



Thursday, April 23, 2015

JURNAL KIMIA 1


Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA,  Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Juni 2012


K-87

PEMANFAATAN DAUN NANAS (Ananas comosus) SEBAGAI ADSORBEN LOGAM Ag DAN Cu PADA LIMBAH INDUSTRI PERAK DI KOTAGEDE, YOGYAKARTA 


Eko Budiyanto, Ardi Yuli Wardani, Winda Nirmala Jurusan Pendidikan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Yogyakarta 


Abstrak 

 Telah dilakukan penelitian tentang adsorbsi logam Ag dan Cu dari limbah cair industri perak di Kotagede, Yogyakarta menggunakan adsorben dari daun nanas (Ananas comosus). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik, daya adsorbsi serta pengaruh jumlah adsorben dari daun nanas (Ananas comosus) terhadap adsorbsi logam Ag dan Cu.  Subjek penelitian adalah karbon dari daun nanas  yang teraktivasi oleh HCl 15% dengan waktu perendaman 24 jam.  Objek penelitian  adalah kemampuan adsorben dari daun nanas (Ananas comosus) untuk mengadsorbsi logam Cu dan Ag dari limbah cair industri perak di Kotagede. Variabel bebas yang dipakai adalah jumlah karbon aktif, yaitu 0,5; 1,0; 1,5; 2,0 dan 2,5 gram  per 100 mL  limbah cair. Waktu dan pH adsorbsi dilakukan pada kondisi optimum, yaitu waktu kontak 24 jam dan pada pH 2. Karakterisasi karbon aktif menggunakan parameter kadar air, abu dan daya serap terhadap I2. Daya adsorbsi ditentukan dengan membandingkan konsentrasi Cu dan Ag sebelum dan setelah adsorbsi..   Hasil penelitian memperlihatkan bahwa karbon aktif dari daun Nanas (Ananas comosus) memiliki kadar air 0,6% , kadar abu 3,2% dan daya serap terhadap I2 73,67%. Untuk logam Cu adsorbsi optimum diperoleh pada massa adsorben 2 gram/100 mL dengan daya adsorbsi 69,07% dan untuk logam Ag adsorbsi optimum diperoleh pada massa adsorben 1,5 gram/100 mL dengan daya adsorbsi 74,56%. Kenaikan massa adsorben  meningkatkan daya adsorbsi. 

Kata kunci : adsorben, daun nanas, limbah cair 

PENDAHULUAN 

Perkembangan industri di segala bidang dewasa ini semakin pesat, tidak terkecuali perkembangan industri penyepuhan (elektroplating) perak di sentra industri perak Kotagede yang merupakan salah satu potensi asli daerah (PAD) dari kota Yogyakarta. Perkembangan industri penyepuhan perak menimbulkan masalah baru yaitu limbah dari industri tersebut yang mencemari lingkungan. Limbah cair merupakan hasil buangan dari industri penyepuhan perak di Kotagede. Limbah cair ini mengandung logam-logam berat, seperti Tembaga (Cu) dan Perak (Ag). Limbah Ag berasal dari hasil pembuangan larutan elektrolit AgNO3 yang dipakai untuk penyepuhan perak. Adapun limbah Cu muncul dari pencelupan dengan menggunakan HCl yang bersifat asam dan berfungsi untuk melarutkan kotoran-kotoran yang menempel pada perak setelah proses penempaan agar didapatkan perak dengan warna yang cemerlang. CuCl 2 yang terlarut pada proses ini akhirnya lolos ke perairan dan menimbulkan pencemaran.  Menurut Giyatmi (2008), kadar Cu dan Ag pada limbah cair industri penyepuhan logam berturut-turut adalah 11,547 ppm dan 0,052 ppm. Angka ini telah melampaui ambang batas maksimal. Jika hal ini dibiarkan maka limbah cair tersebut akan mencemari sungai maupun meresap ke tanah sehingga mempengaruhi kualitas air sumur warga. Cu da Ag adalah logam berat yang tidak dapat terurai secara alami, maka akan sangat berbahaya bagi manusia.  Oleh karena itu, diperlukan suatu cara untuk mengolah limbah cair dari industri penyepuhan perak tersebut sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan. Cara yang dapat digunakan adalah menggunakan adsorben logam berat. Adsorben yang dapat dipakai daun nanas (Ananas comosus). Pemanfaatan tanaman ini hanya sebatas pada buahnya saja sedangkan daun nanas (Ananas comosus)  relatif belum banyak diolah. Untuk 2-3 kali panen, tanaman ini harus diganti dengan tanaman nanas (Ananas comosus)  baru, sehingga terdapat relatif banyak limbah daun nanas (Ananas comosus)  dari pertanian nanas.

Eko Budiyanto, Ardi Yuli Wardani, Winda Nirmala  Pemanfaatan Daun Nanas …


K-88

Daun nanas (Ananas comosus)  banyak mengandung bahan kima salah satunya sellulosa. Menurut Handayani (2010), kandungan sellulosa dalam daun nanas (Ananas comosus)  sebesar 69,6-71%. Dengan kandungan sellulosa yang tinggi serat daun nanas (Ananas comosus)  dapat dijadikan adsorber limbah logam berat karena struktur rongga dalam sellulosa dapat mengadsorbsi logam berat Cu dan Ag  Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah yang diteliti sebagai berikut : (1) bagaimana karakteristik adsorben yang dihasilkan dari daun nanas (Ananas comosus);  (2) berapa daya adsorbsi adsorben dari daun nanas (Ananas comosus)  terhadap logam Cu dan Ag; (3) bagaimana pengaruh jumlah/luas permukaan  adsorben dari daun nanas (Ananas comosus)  terhadap logam Cu dan Ag yang teradsorbsi.  Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: (1) mengetahui karakteristik adsorben yang dihasilkan dari daun nanas (Ananas comosus); (2) mengetahui daya adsorbsi adsorben dari daun nanas (Ananas comosus)  terhadap logam Cu dan Ag; (3) mengetahui pengaruh jumlah/luas permukaan  adsorben dari daun nanas (Ananas comosus)  terhadap logam Cu dan Ag yang teradsorbsi.  Manfaat yang diharapkan dari hasil poenelitian ini adalah memberikan alternatif pengolahan limbah perkebunan berupa adsorben dari serat daun nanas (Ananas comosus)  sebagai penanggulangan dampak lingkungan akibat limbah industri perak di Kotagede, Yogyakarta 


METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen pengembangan yaitu mengembangkan suatu bioadsorben dari daun nanas (Ananas comosus) untuk limbah cair industri perak di Kotagede. Subjek dari peneliytian ini adalah daun nanas (Ananas comosus) dan objek dari penelitian ini adalah kemampuan adsorben dari daun nanas (Ananas comosus) untuk mengadsorbsi logam Cu dan Ag dari limbah cair industri perak di Kotagede. Variabel bebas yang dipakai dalam penelitian ini adalah berbagai variasi jumlah/luas permukaan  bioadsorben daun nanas (Ananas comosus), dengan variabel terikat  konsentrasi logam Cu dan Ag yang teradsorbsi oleh bioadsorben dan variabel kontrol konsentrasi logam Cu dan Ag dalam limbah cair sebelum diadsorbsi, jumlah sampel, waktu adsorbsi, pH dan suhu. Penelitian dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu pembuatan arang aktif (adsorben) dari daun nanas (Ananas comosus), karakterisasi arang aktif dari daun nanas (Ananas comosus) dan penentuan daya adsorbsi terhadap ion logam Ag dan Cu dalam limbah cair industri perak di Kotagede. Pembuatan arang aktif dilakukan dengan menyangrai daun nanas (Ananas comosus) kering hingga terbentuk arang. Selanjutnya arang ini dihaluskan hingga keh alusan 50 mesh dan diaktivasi dengan larutan HCl 15% selama 24 jam. Selanjutnya arang aktif disaring dan dicuci dengan akuades hingga netral dan dioven pada suhu 110 oC selama 2 jam. Tahap kedua adalah karakterisasi arang aktif yang meliputi kadar air, kadar abu dan daya serap terhadap I2. Untuk uji kadar air, sebanyak 1 gram arang aktif dioven pada suhu 100 oC selama 1 jam dan ditimbang dan dilakukan pengulangan sampai berat konstan. Pengujian kadar abu dilakukan dengan mengabukan 1 gram arang aktif di dalam  muffle furnace selama 1 jam pada suhu 900 oC. Pengujian daya serap terhadap I2 dilakukan dengan cara menimbang  0,5 gram arang aktif dan tambahkan 50 mL larutan iodium 0,1 N dan diaduk selama 15 menit (larutan 1). Menyaring  dan memipet 2  mL filtrat, tambahkan 9 mL air suling dan titrasi dengan larutan Na 2 S 2 O 3 0,1 N. Tahap ketiga, yaitu penentuan daya adsorbsi terhadap ion logam Ag dan Cu dalam limbah cair industri perak di Kotagede dilakukan dengan cara mencampurkan 100 mL limbah cair dengan variasi massa adsorben, yaitu 0,5; 1,0; 1,5; 2,0 dan 2,5 gram lalu didiamkan selama 24 jam pada pH 2. Kadar Ag dan Cu diukur dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom. 

HASIL DAN PEMBAHASAN 

Dari  penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil karakterisasi arang aktif 
sebagai berikut :   



Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA,
 Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Juni 2012



K-89

Tabel 1. Hasil karakterisasi arang aktif

No
Parameter
Satuan
SNI No. 06-37301995

Arang aktif dari daun nanas
1
Kadar air
%
Max 4,4
0,6
2
Kadar abu
%
Max 10
3,2
3
Daya serap terhadap I2

mg/g
Min 750
736,7



Dari data tersebut diperoleh bahwa kadar air dan kada abu bsudahb sesuai dengan yang dipersyaratkan oleh SNI No. 06-3730-1995, sedanglan daya serap terhadap I2 masih di bawah standar SNI. Hal ini akan berakibat pada efektivitas penyerapan terhadap ion logam. Selanjutnya dilakukan perlakuan terhadap sampel. Dilakukan variasi penambahan arang aktif sebanyak 0; 0,5; 1,0; 1,5; 2,0 dan 2,5 gram per 100 mL limbah cair dengan waktu kontak 24 jam dan pH 2. Selanjutnya campuran disaring dan filtrat diukur dengan AAS kadar Cu dan Ag. Setelah pengukuran diperoleh data sebagai berikut: 


Tabel 2. Kadar Cu setelah adsorbsi

No
Kode sampel

Jumlah adsorben (gram/100 mL)

Hasil pengukuran (ppm

) Rata-rata (ppm)
%  Adsorbsi

I
II
III
1
A
0
22,729
22,729
22,729
22,729
-
2
B
0,5
15,298
15,298
15,298
15,298
32,694
3
C
1,0
13,750
12,822
13,131
13,234
41,773
4
D
1,5
10,345
10,654
10,345
10,448
54,032
5
E
2,0
7,185
7,030
6,875
7,030
69,070
6
F
2,5
8,578
8,733
8,733
8,681
61,805


Eko Budiyanto, Ardi Yuli Wardani, Winda Nirmala  Pemanfaatan Daun Nanas …

K-90


Tabel 3. Kadar Ag setelah adsorbsi

No
Kode sampel

Jumlah adsorben (gram/100 mL)

Hasil pengukuran (ppm

) Rata-rata (ppm)
%  Adsorbsi

I
II
III
1
A
0
0,177
0,169
0,169
0,172
-
2
B
0,5
1,083
0,1
0,075
0,086
49,903
3
C
1,0
0,041
0,058
0,049
0,049
71,262
4
D
1,5
0,049
0,041
0,041
0,044
74,563
5
E
2,0
0,066
0,066
0,066
0,066
61,553
6
F
2,5
0,049
0,049
0,049
0,049
71,456


Dari hasil tersebut diperoleh bahwa untuk Ag daya adsorbsi tertinggi diperoleh pada jumlah adsorben 1,5 gram/100 mL limbah cair dengan nilai daya adsorbsi 74,563%. Menurut PP Nomor 20/1990, ambang batas kadar Ag untuk air golongan B adalah 0,05 ppm dan dari hasil pengolahan dengan arang akti tersebut, air sudah layak. Untuk Cu daya adsorbsi tetinggi sebesar 69,070% diperoleh dengan jumlah adsorben 2,0 gram/100 mL limbah cair. Menurut PP Nomor 20/1990, ambang batas Cu untuk air golongan B adalah 1 ppm sehingga pengolahan dengan arang aktif dari daun nanas belum efektif. 

KESIMPULAN

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa karbon aktif dari daun Nanas (Ananas comosus) memiliki kadar air 0,6% , kadar abu 3,2% dan daya serap terhadap I2 73,67%. Untuk logam Cu adsorbsi optimum diperoleh pada massa adsorben 2 gram/100 mL dengan daya adsorbsi 69,07% dan untuk logam Ag adsorbsi optimum diperoleh pada massa adsorben 1,5 gram/100 mL dengan daya adsorbsi 74,56%. Kenaikan massa adsorben  memiliki kecenderungan meningkatkan daya adsorbsi. 


DAFTAR PUSTAKA

Andaka, Ganjar. 2008.  Penurunan Kadar Tembaga pada Limbah Cair Industri Kerajinan Perak dengan Presipitasi menggunakan Natrium Hidroksida. Jurnal Teknologi vol. 1 nomor  2 127134 
Artati, E.K., dkk.  2009, Pengaruh Konsentrasi Larutan Pemasak pada Proses Delignifikasi Eceng Gondok dengan Proses Organosolv. Ekuilibrium, Vol. 8 No. 1, hal 25-28 
Badan Standardisasi Nasional.  1995. SNI No. 06-3730-1995. Jakarta: BSN 


Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, 
Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Juni 2012


K-91

Giyatmi, dkk. 2008. Penurunan Kadar Cu,Cr dan Ag Dalam Limbah Cair Industri Perak di Kotagede detelah Diadsorpsi dengan Tanah Liat dari Daerah Godean. Jurnal Seminar Nasional IV SDM Teknologi Nuklir ISSN 1978-0176 

Handayani, Aries Wiwit. 2010. Penggunaan Selulosa Daun Nanas sebagai Adsorben Logam Berat Cd(II). Surakarta: Skripsi UNS 

Istiyono, Edi, dkk. 2008. Pengelolaan Limbah Industri Penyepuhan Logam Perak (Elektroplating) di Lingkungan Pengrajin Perak Kecamatan Kotagede. Yogyakarta: E-prints UNY 

Salamah, Siti. 2008. Pembuatan karbon Aktif dari Kulit Buah Mahonidengan Perendaman Larutan KOH. Prosiding Seminar nasional Teknoin Bidang Teknik Kimia dan  Tekstil 
Sani. 2011. Pembuatan Karbon Aktif dari Tanah Gambut. Jurnal teknik Kimia vol. 5 no.2 


Tarmansyah, Umar. 2007. Pemanfaatan Serat Rami untuk Pembuatan Selulosa. Jakarta: Puslitbang Dephan









JURNAL KIMIA 2


MAKARA, KESEHATAN, VOL. 7, NO. 2, DESEMBER 2003

PENENTUAN KADAR NIKOTIN DALAM ASAP ROKOK

Dewi Susanna, Budi Hartono, Hendra Fauzan
Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia
E-mail: dsusanna@makara.cso.ui.ac.id

Abstrak 

Penelitian ini merupakan studi deskriptif untuk mengetahui kadar nikotin dalam asap beberapa merk rokok yang banyak dijual di pasaran. Jenis rokok yang digunakan adalah tiga merk rokok filter dan tiga merk rokok kretek (non filter), Kadar nikotin yang diukur adalah kadar nikotin dalam asap arus utama dan asap rokok arus samping. Pengukuran kadar nikotin dilakukan dengan menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi per batang rokok. Kandungan nikotin dalam rokok kretek lebih besar dibandingkan rokok filter. Pada rokok filter kandungan nikotin terbesar pada Filter-C, terendah pada Filter-A. Sedangkan pada rokok kretek kandungan tertinggi pada Kretek-X dan terendah pada Kretek-Z. Nikotin yang terdapat dalam asap rokok arus samping 4 – 6 kali lebih dari asap rokok arus utama. Hendaknya kadar
nikotin dicantumkan pada kemasan setiap merk rokok dan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efek terhadap kesehatan masyarakat.

Abstract

Nicotine Content Determination on Cigarettes Smoke. The purpose of this descriptive study is to assess the nicotine level of several types of cigarettes brand sold in the market. The study includes three brands of filtered cigarette and three brands of non-filtered cigarette. The nicotine content was measured from both mainstream smoke and sidestream smoke by using the HPLC (High Performance Liquid Chromatography). It was found that the nicotine content of non-filtered cigarette was higher than the filtered cigarette. The highest nicotine content in the filtered cigarettes was the Filter-C, meanwhile the lowest was Filter-A. The highest nicotine content of the non filtered cigarettes was the Kretek-X with the lowest nicotine content the Kretek-Z. The nicotine content of sidestream smoke was 4 – 6 times than mainstream smoke. Nicotine content level in the cigarette package should be mentioned and further studies should determine the effect of cigarettes to the public healths.
Keywords: cigarette, nicotine, filtered, non- filtered, mainstream smoke, sidestream smoke
1. Pendahuluan

Merokok telah diketahui dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan ini dapat disebabkan oleh nikotin yang berasal dari asap arus utama dan asap arus samping dari rokok yang dihisap oleh perokok. Dengan demikian penderita tidak hanya perokok sendiri (perokok aktif) tetapi juga orang yang berada di lingkungan asap rokok (Environmental Tobacco Smoke) atau disebut dengan perokok pasif1. Gangguan kesehatan yang ditimbulkan dapat berupa bronkitis kronis, emfisema, kanker paru-paru, larink, mulut, faring, esofagus, kandung kemih, penyempitan pembuluh nadi dan lain-lain. Namun demikian masih banyak orang baik laki-laki maupun perempuan yang belum atau tidak dapat meninggalkan kebiasaan merokok ini 2. Berbagai usaha telah dilakukan oleh pihak-pihak yang peduli terhadap kesehatan lingkungan dari asap rokok, seperti larangan merokok di tempat-tempat umum, instalasi khusus, dan lain-lain. Bahkan peringatan pemerintah pada kemasan rokok yang menyatakan bahwa merokok dapat merugikan kesehatan tidak mendapatkan tanggapan baik dari masyarakat
2.

39
MAKARA, KESEHATAN, VOL. 7, NO. 2, DESEMBER 2003

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lingkungan asap rokok adalah penyebab berbagai penyakit, dan juga dapat mengenai orang sehat yang bukan perokok. Paparan asap rokok yang dialami terus-menerus pada orang dewasa yang sehat dapat menambah resiko terkena penyakit paru-paru dan penyakit jantung sebesar 20 - 30 persen. Lingkungan asap rokok dapat memperburuk kondisi seseorang yang mengidap penyakit asma, menyebabkan bronkitis, dan pneumonia. Asap rokok juga menyebabkan iritasi mata dan saluran hidung bagi orang yang berada di sekitarnya. Pengaruh lingkungan asap tembakau dan kebiasaan ibu hamil merokok dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada anaknya bahkan sebelum anak dilahirkan. Bayi yang lahir dari wanita yang merokok selama hamil dan bayi yang hidup di lingkungan asap rokok mempunyai resiko kematian yang sama 2 . Risiko yang dapat ditimbulkan oleh karena merokok sebenarnya dapat dikurangi bila diketahui kadar nikotin dalam asap rokok 2. Bila kadar ini dicantumkan maka calon perokok dapat memilih rokok dengan kandungan nikotin yang sekecil mungkin atau kandungan yang paling sedikit diantara jenis-jenis rokok. Pada saat ini banyak produsen rokok belum mencantumkan kadar nikotin dalam kemasannya maka perlu dilakukan pengukuran kadar nikotin yang dihasilkan oleh asap rokok dengan tujuan untuk mengetahui berapa kandungan nikotin yang dihasilkan oleh asap rokok dari berbagai macam merk rokok yang banyak beredar di pasaran. Asap rokok yang akan diukur adalah asap rokok yang dihisap oleh perokok (asap rokok arus utama) dan yang dilepaskan ke lingkungan sekelilingnya (asap arus samping) yang memungkinkan dihirup oleh orang lain yang berada di lingkungan tersebut 3.Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan atau informasi bagi para perokok untuk
dapat mengetahui bahaya yang ditimbulkan akibat kebiasaan merokok dan meninggalkan kebiasaan merokok secara perlahan atau dapat menentukan alternatif produk rokok yang ebih rendah kadar nikotinnya.
2. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan studi deskriptif, untuk mengetahui kadar nikotin dalam asap berbagai merk rokok yang banyak dijual di pasaran. Jenis rokok yang digunakan adalah 3 jenis merk rokok filter dan 3 jenis rokok kretek (non-filter), masing-masing diberi notasi Filter-A, Filter-B dan Filter-C, Kretek-X, Kretek-Y dan Kretek-Z, sehingga ada 6 sampel (merk rokok). Kadar nikotin yang diukur adalah kadar nikotin dalam asap arus utama (asap yang dihisap langsung oleh perokok) dan asap rokok arus samping (asap rokok yang dilepaskan ke lingkungan). Masing-masing sampel diperiksa tiga kali ulangan dengan menggunakan satu batang rokok untuk setiap pengukuran 3. Pengukuran kadar nikotin dilakukan dengan menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi per batang rokok. Langkah pertama yang dilakukan adalah mempersiapkan bahan-bahan dan alat yang diperlukan, pembuatan larutan standar nikotin, penentuan volume larutan pengabsorbsi, uji kualitatif nikotin, absorsi nikotin dari asap rokok dan analisis dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Banyaknya nikotin dalam asap rokok dihitung berdasarkan luas puncak kromatogram standar nikotin yang diketahui konsentrasinya 4. Data yang dikumpulkan berupa kandungan nikotin pada asap utama dan asap samping dengan masing-masing tiga kali ulangan. Data tersebut dianalisis secara deskriptif dengan menampilkan rata-rata kandungan nikotin dan menghitung perbandingan antara kandungan nikotin dalam asap arus utama dan asap arus samping.

3. Hasil dan Pembahasan

Hasil pengukuran kandungan nikotin dalam asap rokok ditampilkan dalam Tabel 1.
Dari tabel tersebut terlihat bahwa kandungan nikotin yang terdapat dalam rokok kretek lebih besar dari rokok filter baik pada asap arus utama atau pun arus samping. Pada rokok filter kandungan nikotin terbesar terdapat pada Filter-C dan yang terkecil rokok Filter-A.

Tabel 1. Kandungan Nikotin dalam Asap Arus Utama dan Arus Samping per Batang Rokok

jenis rokok

Nikotin (mg) per batang rokok

AS/AU

Asap arus
utama (AU)

Asap arus
samping (AS)

Filter-A

0,738
3,329
4,510

0,962
3,935
4,090

1,011
4,010
3,966

Rata-rata
0,904
3,758
4,189

Filter-B

0,930
4,562
4,905

0,975
4,686
4,806

1,084
5,015
4,626

Rata-rata
0,996
4,754
4,779

Kretek-C

0,975
4,955
5,082

1,135
5,529
4,871

1,311
5,568
4,247

Rata-rata
1,140
5,350
4,734
Kretek-X

1,095
7,211
6,584

1,254

7,523
5,999
1,570

7,637
4,864
Rata-rata
1,306
7,457
5,816

Kretek-Y

1,384

5,905
4,267
1,353

5,931
4,384

1,104

6,516
5,902
Rata-rata
1,280
6,117
4,851

Kretek-Y
1,034
4,329
4,187

1,129

4,466
3,956
1,332

5,651
4,242
Rata-rata
1,165

4,815
4,128


Sedangkan pada jenis kretek, nikotin paling besar didapatkan pada Kretek-X, yang terkecil Kretek-Z. Hal ini disebabkan karena pada rokok kretek tidak dilengkapi dengan filter yang berfungsi mengurangi asap yang keluar dari rokok seperti yang terdapat pada jenis filter.
Asap rokok arus samping mengandung nikotin lebih banyak dari pada dalam arus utama. Dengan kata lain bahwa kadar nikotin yang dilepaskan ke lingkungan lebih banyak dari pada nikotin yang dihisap oleh perokok. Perbandingan jumlah nikotin dalam asap arus samping lebih banyak 4 – 6 kali dari pada yang terdapat dalam asap arus utama.
Perbedaan ini selain dikarenakan perbedaan dalam pembentukannya, juga disebabkan karena asap rokok arus samping terus menerus dihasilkan selama rokok menyala walaupun tidak sedang dihisap. Dengan demikian merokok tidak saja membahayakan bagi si perokok saja (perokok aktif), tetapi juga bagi orang di
sekitarnya (perokok pasif). Perbedaan nikotin dalam berbagai merk rokok dipengaruhi oleh berbagai faktor
antara lain jenis dan campuran tembakau yang digunakan, jumlah tembakau dalam tiap batang rokok, senyawa tambahan yang digunakan untuk meningkatkan aroma dan rasa, serta ada-tidaknya filter dalam tiap batang rokok.
Bila diasumsikan bahwa rata-rata orang merokok per hari 10 batang, dan diasumsikan semua nikotin yang terdapat dalam asap rokok terserap seutuhnya ke dalam tubuh, maka jumlah nikotin yang masuk ke dalam tubuh per hari dapat dihitung 2. Meskipun dosis yang dihisap per harinya masih di bawah dosis toksik (0,5–1,0 mg/kg BB atau sekitar 30 – 60 mg), bila ini berlangsung dalam waktu yang lama maka akan dapat mengakibatkan gangguan kesehatan. Pada dasarnya toksisitas suatu zat ditentukan oleh besarnya paparan (dosis), dan lamanya pemaparan.

4. Kesimpulan

Dari pengukuran kadar nikotin yang dilakukan terhadap dua jenis rokok masing-masing tiga merk dengan ulangan sebanyak tiga kali, diperoleh kesimpulan yaitu: bahwa kandungan nikotin dalam rokok kretek lebih besar dari rokok filter. Pada rokok filter kandungan nikotin terbesar pada Filter-C, terendah pada Filter-A, sedangkan pada rokok kretek kandungan tertinggi pada Kretek-X dan terendah pada Kretek-Z. Nikotin yang terdapat dalam asap rokok arus samping 4–6 kali lebih besar dari asap rokok arus utama.

41

MAKARA, KESEHATAN, VOL. 7, NO. 2, DESEMBER 2003

Hendaknya kadar nikotin dicantumkan pada setiap merk rokok. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan khususnya tentang efeknya terhadap kesehatan masyarakat khususnya perokok dan bukan perokok yang selalu berada pada lingkungan asap rokok, dan perlu dikembangkan penelitian lebih lanjut terhadap merk-merk rokok lainnya.

Daftar Acuan

1. Dube MF, Green CR. Methods of Collection of Smoke Analytical Purposes. Recent Advances in Tobacco Science1992; 8: 42-102.
2. Amstrong BK Merokok dan Kesehatan. Jakarta, 1984.
3. Alaunir N. Penentuan Kadar Nikotin dalam Berbagai Merk Rokok yang Beredar di Sumatera Barat. Padang: IKIPPadang, 1992. Laporan Penelitian.
4. Snyder LR, Kirkland JJ. Introduction to Modern Liquid Chromatography. 2nd edition. New York: John Willey andSons, 1980.